Akhlak. Pendidikan Sepanjang Hayat

1 Ramadhan 1439 H

Ramadhan hari pertama di usiaku 24 tahun.

Dalam perjalanan hidupku selama 24 tahun, aku membutuhkan waktu yang lama untuk benar-benar mengerti suatu makna dalam hidup ini. Ketika sudah mengerti, aku bukanlah orang yang dengan mudah berubah seperti ilmu yang kumiliki. Aku menunggu momen untuk perubahan. Dan Allah lah yang selalu mengirimkan momen itu kepadaku. Dengan hati terbuka, aku baru bisa berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih baik. Inilah aku, dengan titik balik yang tidak kuketahui kapan datangnya. Tapi yang sedang kujalani sekarang adalah aku berusaha berjuang untuk selalu mengingat-Nya. Dan itu benar-benar tidak mudah.

Bicara mengenai momen, mungkin beberapa dari kalian tidak setuju denganku. Karena hal tersebut harus dikejar dan kita usahakan. Kita harus aktif mencari petunjuk Allah dan hikmah-hikmah dalam hidup ini agar lebh dekat dan beriman pada Allah. Hal tersebut sangatlah benar. Sejak kecil, aku teringat bahwa aku adalah anak yang sangat pasif dan tidak neko-neko. Aku jarang sekali meminta sesuatu dan berkeinginan untuk bisa melakukan sesuatu. Aku mudah lelah, mengeluh, bosan, dan keras kepala. Tapi aku mengikuti alur hidup yang tersedia di depanku dengan cukup baik. Karena aku bukanlah seseorang yang cuek mengenai pendapat orang tentang diriku. Jadi inilah aku, dengan ketenangan yang kuperlihatkan di depan mata orang lain, tetapi di dalam hati dipenuhi dengan kecamuk badai yang mulai membesar sejak aku SMA.

Di dalam diriku dipenuhi badai tentang ketidakpuasan akan diriku dan keluargaku, kebosanan melanda, sehingga terbitlah rasa ingin keluar dari rumah yang membuatku gerah. Masalah keluarga? tidak ada sama sekali. Keluargaku damai dan rukun-rukun saja. Lalu apa yang terjadi saat itu? Di usia SMA itulah aku menyadari betapa buruknya diriku. Aku membenci diriku sendiri. Aku tidak tahan belajar keras, aku mudah lelah, aku bosan tapi terlalu malas untuk berbuat apapun. Ketidakpuasan ini melebar. Aku mencari sosok yang bisa disalahkan. Dan akhirnya, ayah ibuku menjadi kambing hitam. Aku marah kenapa mereka tidak mengajarkanku disiplin. Dengan disiplin itu, aku mungkin akan bisa menjadi orang yang lebih bisa berjuang. Aku marah kenapa orang tuaku membiarkanku menonton TV seharian. Aku marah mereka tidak pernah membriku alternatif kegiatan untuk ku menghabiskan waktu. Aku benci di rumah dan ingin pergi.

See, kemarahan itu sebenarnya adalah awal dari sebuah kesadaran bahwa aku ingin sekali menjadi sosok yang lebih baik. Kemarahan itu adalah awal dari kebencian terhadap keburukan di dalam diriku. Maka ketika aku benar-benar diberikan kesempatan untuk keluar dari rumah, Allah memberikanku tempat dimana aku bisa memperbaiki akhlakku. Allah mengirimku ke tempat dimana aku bisa melembutkan hati sedikit demi sedikit, dan tempat itu juga adalah tempat dimana aku harus menghadapi kerasnya ombak dalam hidup ini, dengan cara yang demikian lembut. Jika aku mengingat masa itu, maka yang kusadari adalah, Allah benar-benar tahu kapasitasku dan sangat tahu bagaimana mendidikku.

Setelah masa kuliah yang begitu mengharukan, aku lulus dengan teramat berat. Ya, setelah 4 tahun penuh didikan dari Allah, aku masih dengan dungunya belum bisa berubah. Aku masih sama. Malas. Perjuangan skripsi membuatku hampir menyerah. Aku tak kuat. Jika mengingat masa itu dan membuka kembali diary-ku, aku berpikir, masalahku memang hanyalah tak kuat berjuang dan berpikir keras. Tapi perlahan-lahan aku bisa melewatinya. Aku bisa lulus di tahun seharusnya aku lulus. Hanya terlambat 3 bulan. 

Mengubah akhlak memanglah tidak mudah. Aku seringkali menangis mengingat Rasulullah di masa-masa aku hampir putus asa mengendalikan diriku sendiri. Aku berpikir, 'Ya Rasul, andai saja ada engkau di masaku sekarang ini, akan kudatangi dan sungguh aku ingin sekali meminta doa dan nasihat darimu. betapa banyak cerita tentang sahabat-sahabat dengan akhlak buruk yang akhirnya bisa berubah karena Engkau, ya Rasul... Andai saja engkau disini saat ini, aku rela bahkan untuk menjadi budakmu agar bisa selalu berada di dekatmu.' Begitulah aku seringkali berpikir.

Dengan pikiran semulia itu, tidak serta merta aku mampu mengubah akhlakku. Mengubah akhlak benar-benar membutuhkan proses yang teramat menyakitkan bagiku. Ya, karena aku memiliki akhlak yang teramat buruk. Setelah bertahun-tahun ingin berubah, aku masih saja merasa begitu buruk. Dan hari ini, aku membaca sebuah kutipan dari buku yang menyatakan bahwa Rasul datang untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia. Aku berpikir lagi. AKHLAK. AKHLAK. AKHLAK. Betapa ia begitu penting.

Hari ini, 1 Ramadhan 1437 H, aku ingin meniatkan diri agar bisa menjadi seseorang yang berakhlak mulia, dan selalu mengingat teladan, Rasulullah SAW dalam bersikap. Dengan menorehkan niat ini, aku berharap bisa menjadi pengingat bagi diriku sendiri ketika aku lupa.

Momen yang datang kepadaku dikirim Allah sebagai jawaban dari yang tadinya hanya sekadar 'niat'. Bukan berarti kita berpangku tangan. Memanfaatkan momen yang datang juga termasuk usaha dan yang perlu diingat, momen itu tidak akan datang tanpa adanya rasa ingin memperbaiki diri. Jikapun ia datang, maka kita tidak akan sadar bahwa kita harus memanfaatkan momen itu dengan baik. Pemanfaatan momen yang datang inilah yang teramat penting dan membutuhkan kepekaan hati, kesadaran diri bahwa kita ingin menjadi lebih baik dan menjadi versi terbaik dari diri kita.

Komentar